Bedah Buku “Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah” beserta Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif - Part1

Jan 17, 2019 - Others
Tarikh:Jumaat 11 Januari 2019
Waktu:7PM – 10PM
Tempat:Graha Pemuda, Sri Hartamas, Kuala Lumpur

Daftar: https://www.eventbrite.com/e/bedah-buku-islam-dalam-bingkai-keindonesiaan-dan-kemanusiaan-sebuah-refleksi-sejarah-beserta-prof-tickets-54258770443

Islam lahir dan berkembang sepenuhnya dalam darah dan daging sejarah, tidak dalam kevakuman budaya. Sebagai agama sejarah, Islam telah, sedang, dan akan terus bergumul dengan lingkungan yang senantiasa berubah. Tujuan Islam adalah mengarahkan perubahan itu agar tidak tergelincir dari jalan lurus kenabian, dari jalan keadilan. Namun, sering kali Islam diasingkan dari persentuhan dengan fakta budaya dan sosial. Akibatnya, Islam menjadi ahistoris dan gamang menghadapi perubahan dan gagal mengemban misinya menuntun peradaban.

Buku ini memuat gagasan reflektif daripada seorang cendekiawan Muslim dan guru bangsa, Ahmad Syafii Maarif. Refleksi ini lahir daripada keprihatinan bahwa umat Islam, sebagai penduduk mayoritas Nusantara, semestinya tidak lagi mempersoalkan hubungan Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Ketiga konsep itu haruslah senafas agar Islam yang berkembang di Indonesia adalah sebuah Islam yang ramah, terbuka, inklusif.

Inilah tantangan sekaligus peluang yang cuba dijawab buku ini. Jika keIslaman, keIndonesiaan, dan kemanusiaan telah senafas dalam jiwa, pikiran, dan tindakan umat Muslim Indonesia, Islam Indonesia akan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa. Sebuah Islam yang dinamis dan bersahabat, yang memberikan keadilan, keamanan, dan perlindungan kepada semua penduduk Nusantara. Sebuah Islam yang sepenuhnya berpihak kepada rakyat miskin dan menolak kemiskinan sehingga berhasil dihalau dari Nusantara ini.

 

Tentang Penulis

Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif ialah Mantan Ketua Umum Muhammadiyah serta Mantan Presiden, World Conference on Religion for Peace (WCRP).Beliau meraih gelar Sarjana Muda dari Universitas Cokroaminoto pada tahun 1964, sedang gelar Sarjananya diperoleh dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Yogyakarta empat tahun kemudian. Kepakarannya di bidang sejarah semakin terbukti setelah memperoleh gelar Master dari Ohio State Universitas, Amerika Serikat. Gelar Doktoralnya diperoleh pada tahun 1993 dari Universitas Chicago dalam Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat dengan disertasi: Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia. Beliau terlibat secara intensif melakukan pengkajian terhadap Al-Quran dengan bimbingan Fazlur Rahman. Di sana, Buya Syafii kerap terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang sedang menjalani pendidikan doktor falsafah. Setelah terpilih sebagai Ketua Umum Muhammadiyah dalam Muktamar ke-44 (2000) yang berlangsung di Jakarta, Buya Syafii kemudian mengemudikan perannya dalam mendinamisasi Muhammadiyah agar dapat secara optimal menggerakkan usaha-usaha tajdid dan cita-cita pencerahan yang hendak diraihnya. Salah https://viagrageneriquefr24.com satu usahanya adalah mendorong laju kebangkitan intelektual di kalangan Angkatan Muda Muhammadiyah, sebab sangat menyadari bahwa keilmuan dan keIslaman adalah semangat inti segala gerak Muhammadiyah. Usaha dan perjuangan Buya Syafii tak berhenti tatkala meletakkan kepemimpinan Muhyammadiyah pada gernerasi di bawahnya. Buya kemudian mendirikan Maarif Institute sebagai wahana melanjutkan ikhtiar dalam rangka mengawal dan menggapai kebangkitan intelektual di kalangan generasi muda Islam. Kini, di bawah layar Maarif Institute, Buya Syafii kian menancapkokohkan jejaknya sebagai tokoh pluralis yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai kemajukan dalam bingkai keIslaman, keIndonesiaan dan kemanusiaan. Pada masa usia yang sudah tidak muda lagi, 80 tahun, pemikiran-pemikiran Buya Syafii masih dibutuhkan bangsa dan negaranya. Presiden Joko Widodo, pada awal tahun 2015, sempat menawarkan posisi Dewan Pertimbang Presiden, tapi Buya Syafii menolaknya. Dia mahu lebih independen. Maka, saat presiden Joko Widodo memintanya untuk menjadi salah satu Tim Independen mengatasi konflik Polri-KPK, ia menyanggupinya dan sekaligus menjadi Ketua Tim Independen 2015. Sikapnya yang plural, kritis, dan bersahaja telah memposisikannya sebagai “Bapak Bangsa Indonesia”.

 

Program

700-800PM:    Solat dan makan malam
800-810PM:    Pengenalan oleh Pengerusi, Muhammad Thufail Sayuti
810-900PM:    Bedah buku oleh Prof. Dr. Ahmad Syafii maarif
900-1000PM:  Diskusi